Tidak tanggung-tanggung, tiga lokasi kelompok tani (Poktan) disisir langsung oleh Algafry Rahman guna memanen bawang merah dan semangka binaannya. Momentum ini sekaligus mempertegas komitmen daerah dalam mencetak sentral pangan baru.

Perjalanan panen dimulai dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati. Di lokasi ini, Bupati Bateng, Algafry memanen bawang merah yang ditanam di pekarangan rumah warga menggunakan metode formula. Berawal dari bantuan bibit sebanyak 46 kg, hasil panen kali ini diproyeksikan mencapai rasio impresif 1 banding 7.

“Alhamdulillah, taksirannya kurang lebih bisa mencapai hampir 400 kilogram. Saya menyarankan seluruh hasil panen di KWT Melati ini difokuskan untuk dijadikan benih. Kita ingin C2 Lubuk Pabrik ini menjadi sentral bawang merah, sehingga ke depan kita tidak perlu impor benih lagi melainkan bisa memproduksi sendiri,” ujar Algafry optimis.

Ketua KWT Melati, Dwi Soleha, didampingi Sekretaris, Nilawati, mengungkapkan bahwa masa tanam hingga panen memakan waktu sekitar 60 hari (2 bulan). Terkait tantangan, faktor cuaca menjadi dinamika utama.

“Kalau cara merawat insyaallah aman, tantangannya lebih ke cuaca, terutama jika terjadi hujan di malam hari yang memengaruhi kondisi tanaman,” kata Dwi.

Apresiasi serupa juga diberikan Bupati saat meninjau lokasi panen bawang merah kedua di Gapoktan Pading Makmur, tepatnya di lahan milik Wagimin.

“Hasilnya luar biasa, warnanya merah menyala dan buahnya lumayan besar. Bedanya, untuk di Pak Wagimin ini sebagian akan dijual untuk konsumsi, dan yang berukuran kecil akan disiapkan selama 3 bulan ke depan untuk dijadikan benih,” tambahnya, sembari memastikan pihak Penyuluh Pertanian (PPL), Heri, akan terus mendampingi petani secara ketat.

Rombongan kemudian bergeser ke lahan komoditas semangka seluas 6 hektar yang dikelola oleh Poktan Tunas Baru. Meski sempat terjadi sedikit penurunan volume hasil panen akibat cuaca ekstrem yang melanda akhir-akhir ini, para petani tetap semringah berkat kompensasi harga pasar yang sangat menggembirakan.

Pak Kartono, salah satu petani semangka setempat, menjelaskan bahwa proses dari olah lahan hingga panen memakan waktu 3 bulan.

“Cuaca akhir-akhir ini tidak menentu, kadang panas dan kadang hujan. Tapi alhamdulillah, penurunan hasil panen tertolong oleh harga jual yang tinggi, yaitu menembus Rp8.500 per kilogram untuk kategori tertinggi,” tutur Kartono.

Daya tarik semangka Lubuk Pabrik terbukti luar biasa. Para pemborong dan pembeli bahkan rela mengantre langsung di lokasi rezeki tersebut. Skala pasar mereka tidak hanya lokal seperti MBG, melainkan berhasil memikat tengkulak luar pulau dari Kota Cilacap hingga Palembang.

Menutup rangkaian agenda di Desa Lubuk Pabrik, Algafry menyempatkan diri mengunjungi kebun anggur milik Ipung yang lokasinya tidak jauh dari kebun semangka. Bupati mengaku takjub melihat komoditas premium tersebut bisa tumbuh subur dan produktif di Bangka Tengah.

“Banyak jalan menuju Roma. Hari ini kita buktikan, Pak Ipung selaku petani anggur mampu berbisnis dan menghasilkan cuan yang luar biasa. Tidak ada kata susah atau tidak bisa kalau kita punya kemauan dan fokus belajar,” pungkas Bupati penuh apresiasi.