Alternatif dari Gawai, Fun Games Literasi Pena Muda Diserbu Anak-anak

Alternatif dari Gawai, Fun Games Literasi Pena Muda Diserbu Anak-anak

BANGKA TENGAH, Berliannews.id – Di tengah minimnya ruang publik ramah anak sekaligus meningkatnya penggunaan gawai, Komunitas Pena Muda Bangka Tengah menghadirkan alternatif edukatif melalui Fun Games Literasi di Alun-alun Kota Koba. Memasuki hari kedua pelaksanaannya, Minggu (1/2/2026), kegiatan ini berlangsung meriah dan menyedot antusiasme pengunjung.

Fun Games Literasi merupakan bagian dari rangkaian Koba Food Festival yang memadukan kegiatan membaca dengan permainan edukatif. Konsep ini dirancang untuk mendekatkan anak-anak pada buku dengan cara yang menyenangkan, sekaligus mendorong keterlibatan aktif orang tua.

Berbeda dengan kegiatan membaca konvensional, Pena Muda mengemas literasi dalam bentuk permainan interaktif yang menuntut kreativitas, keberanian berekspresi, dan kerja sama. Anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga diajak berdiskusi, bermain peran, serta mengikuti tantangan literasi yang membuat mereka betah mengikuti kegiatan hingga selesai.

Ketua Komunitas Pena Muda Bangka Tengah, Zulfan, mengatakan bahwa kegiatan ini lahir dari kegelisahan terhadap tantangan literasi di era digital. Menurutnya, persoalan literasi saat ini bukan hanya soal ketersediaan buku, melainkan bagaimana menghadirkan ruang dan metode yang mampu menarik minat baca anak.

“Animo masyarakat sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa ruang literasi alternatif di ruang publik sangat dibutuhkan. Banyak orang tua ingin anak-anaknya lepas sejenak dari gawai, dan kegiatan seperti ini menjadi solusi yang edukatif sekaligus menyenangkan,” ujar Zulfan.

Kehadiran Lapak Baca “Bekisah” Pena Muda di Alun-alun Koba menjadi angin segar di tengah keterbatasan ruang baca ramah anak. Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa literasi dapat tumbuh melalui pendekatan kreatif dan kolaboratif di ruang publik.

Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keberlanjutan gerakan literasi ini melalui sinergi lintas pihak. Sebab, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan fondasi penting dalam membentuk generasi kritis, kreatif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Facebook
WhatsApp
Scroll to Top