Kedatangan Menteri disambut hangat oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Bupati Bangka Tengah, Wakil Bupati Bangka Tengah, Kepala Perwakilan BKKBN Babel, serta Kepala DPPKBP3A Kabupaten Bangka Tengah beserta jajaran.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri menghadiri kegiatan Temu Tim Pendamping Keluarga (TPK), kemudian meninjau langsung dua rumah Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Desa Tanjung Gunung, Kecamatan Pangkalanbaru. Dua keluarga yang dikunjungi yakni keluarga Hasmid dan Pitriani serta keluarga Hasri dan Novita Sari. Kondisi kedua rumah tersebut dinilai memprihatinkan karena sebagian besar bangunannya terbuat dari papan dan kayu dengan fasilitas listrik yang sangat terbatas.

Di rumah keluarga Hasmid dan Pitriani, Menteri berdialog langsung dengan keluarga dan memberikan perhatian khusus kepada salah seorang anak mereka yang diketahui putus sekolah. Secara pribadi, Wihaji turut memberikan bantuan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan anak tersebut.

Sementara itu, di kediaman Hasri dan Novita Sari, perhatian Menteri tertuju kepada kondisi Hasri yang mengalami kelumpuhan sehingga tidak dapat bekerja. Wihaji meminta agar Hasri segera mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Provinsi agar memperoleh perawatan yang lebih optimal. Ia juga menyempatkan diri menyapa dan memberikan semangat kepada anak-anak keluarga tersebut.

Pada kesempatan itu juga dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis berupa program pembangunan rumah layak huni dan bantuan nutrisi dari Baznas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kepada kedua keluarga penerima manfaat.

Menteri Kemendukbangga mengatakan kunjungannya merupakan bagian dari implementasi Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang menyasar Keluarga Risiko Stunting (KRS).

“Di kita ada program namanya GENTING, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Targetnya adalah KRS atau Keluarga Risiko Stunting. Hari ini kami mengecek langsung dua titik bersama Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Wakil Bupati, Baznas dan Forkopimda. Ini merupakan perintah Bapak Presiden agar kami tidak hanya banyak berdiskusi atau seminar, tetapi turun langsung ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan,” tutur Wihaji.

Ia menjelaskan, kedua keluarga yang dikunjungi memang masuk dalam kategori Keluarga Risiko Stunting sehingga memerlukan intervensi segera dari pemerintah. Menurut Wihaji, salah satu balita yang ditemui masih berusia tujuh bulan, sementara balita lainnya berusia dua tahun dan keduanya membutuhkan perhatian serius. Ia juga menyoroti kondisi kepala keluarga yang sakit dan tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga negara harus hadir memberikan solusi secepat mungkin.

“Karena bapaknya memang sakit, pekerjaan tidak ada, ibunya juga bekerja serabutan. Tentu negara mesti hadir secepatnya. Saya membantu sesuai kewenangan saya, dan alhamdulillah Pak Gubernur juga langsung menyatakan akan menindaklanjuti bantuan yang diperlukan,” katanya.

Lebih lanjut, Wihaji mengungkapkan bahwa kunjungan ke Bangka Belitung merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerjanya ke berbagai daerah di Indonesia yang berfokus pada dua sasaran utama, yakni Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Keluarga Risiko Stunting.

Ia menyebutkan angka prevalensi stunting nasional saat ini masih berada di kisaran 19,8 persen atau sekitar dua dari sepuluh balita mengalami stunting. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat berbagai intervensi, termasuk melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.

Menurut Wihaji, program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi masyarakat sejak dini sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Wihaji juga mengapresiasi capaian Bangka Belitung dalam penanganan stunting.

“Secara keseluruhan bagus. TPK-nya bekerja dengan baik, distribusi MBG juga sudah berjalan. Kalau masih ada satu dua yang belum, nanti akan kami koordinasikan. Prevalensinya juga mulai menurun. Memang masih ada beberapa titik yang menjadi prioritas penanganan, tetapi secara umum Bangka Belitung sudah berada di jalur yang baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman menyampaikan rasa syukur atas dipilihnya Bangka Tengah sebagai lokasi kegiatan Menteri Kemendukbangga.

“Alhamdulillah tadi Pak Menteri BKKBN beserta Ibu menghadiri kegiatan temu kader pendamping keluarga yang dipusatkan di Bangka Tengah. Setelah itu beliau juga langsung meninjau masyarakat di Tanjung Gunung dalam rangka Program GENTING untuk mencegah stunting,” ucap Algafry.

Algafry mengungkapkan hasil kunjungan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan komitmen pemberian bantuan rumah layak huni dari Baznas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kepada dua keluarga yang dikunjungi. Selain itu, pemerintah juga segera memberikan penanganan kesehatan kepada warga yang sakit.

Ia menambahkan, Pemkab Bangka Tengah akan kembali melakukan pendataan dan evaluasi terhadap masyarakat yang membutuhkan agar bantuan dapat diprioritaskan kepada warga yang benar-benar layak menerima.

“Kita akan meninjau kembali bantuan-bantuan yang memang diperuntukkan bagi masyarakat prioritas sehingga penyalurannya benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.

Salah seorang warga penerima bantuan, Pitriani (29), mengaku tidak menyangka rumahnya dikunjungi langsung oleh Menteri beserta rombongan. Ia mengungkapkan rasa syukur atas perhatian yang diberikan pemerintah. Diketahui Pitriani tinggal di lokasi tersebut selama belasan tahun bersama suami dan ketiga anaknya.

“Alhamdulillah senang, masih bisa dibantu oleh mereka. Mungkin ini rezeki yang sudah lama kami tunggu. Sekali lagi buat Bapak Menteri beserta semuanya, terima kasih atas bantuannya. Semoga Bapak Menteri dan semuanya sehat selalu, dimurahkan rezekinya, dan dilancarkan pekerjaannya,” katanya.

Suasana haru tampak di rumah keluarga Hasri dan Novita Sari. Saat diwawancarai, Novita Sari tak mampu menahan air mata. Dengan suara lirih, ia hanya mampu mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian serta bantuan yang diberikan kepada keluarganya